Aku tak tenggelam, tapi kamu paksa aku naik ke perahu kertasmu. Tanganmu diulurkan panjang-panjang dengan mata bulat penuh harap agar aku segera berlayar melintasi sungai kehidupan. Kamu yakinkan aku bahwa kamu akan menjagaku, sebagai bentuk tanggung jawab karena memintaku untuk naik ke perahumu. Aku ragu kamu bisa berenang, jadi aku tertawa meski kepalaku mengangguk setuju. “Baiklah,” kataku. “jika itu yang kamu mau.”

Menaiki perahu kertasmu tidak begitu buruk. Setiap kita melewati kali dengan pemandangan yang buatmu berseri-seri, aku tak dapat menahan diri untuk memberi kecup di kanan-kiri. Oh, nampaknya aku sudah jatuh hati.

Mungkin sedari caramu menjagaku dari cipratan air ketika batu terjatuh dari atas langit. Atau dari nyala tekad di matamu ketika kamu bilang akan melindungiku dan berjanji untuk selalu di sini. Mungkin juga dari caramu memelukku erat ketika aku tersandung dan terjatuh dari perahu, kedinginan dan ketakutan akan laut yang dalam—namun kamu sebarkan hangat tubuhmu ke seluruh permukaan, yang segera buat aku sembuh dan pipiku merah bersemu.

Kamu ajak aku menaiki perahu kertasmu. Tapi, apakah kamu tahu siapa aku?

Aku adalah si Tidak Tahu Malu.

Kamu berikan aku tumpangan, dan aku merasa seolah bisa berbuat semauku. Kamu berikan segalanya, dan aku pikir aku adalah Raja. Kamu hanyalah seorang kapten perahu, pemilik kapal kertas yang terlalu lugu. Kamu pontang-panting menambal perahu ketika kita akan tenggelam—meski tahu bahwa yang membolongi perahu kertasmu adalah aku.

Aku terlena, Kapten. Aku pikir bisa melakukan segalanya karena selama ini kamu bilang terserah aku. Aku mulai berpikir bahwa aku sudah melewati banyak samudera, namun masih kurang berpengelaman jika ingin menguasai dunia. Aku merasa bahwa kita memiliki terlalu banyak peraturan—meski tak ada yang benar-benar mengekang. Aku lupa bahwa kamulah yang mendorongku untuk terus berada di atas ketika kapal hendak tenggelam.

Aku keterlaluan. Saat kamu sudah mengajakku berkeliling dunia dengan perahu yang kau jaga sepenuh hati, aku melunjak dan meminta perahu sendiri.

“Kamu terlalu mengekang!” Aku bilang.

“Peraturan melaut kita sudah kusesuaikan agar kamu juga nyaman!”

“Dulu, aku tidak perlu bantuan. Aku juga sudah bilang kalau aku bukan pelaut, tapi kamu paksa aku untuk ikut.”

“Aku meyakinkan kamu kalau melaut akan seru! Kita akan mengelilingi dunia berdua saja! Hanya kamu dan aku. Aku ingin berlayar bersamamu.”

Aku terdiam, memikirkan dunia yang ingin kuraih dan cita-citamu yang terlalu menekan.

“Kalau kamu mau perahu sendiri,” kamu bergetar menahan kecewa, “ambil perahu ini.” Lompatmu ke samudera jadi titik henti obrolan kita.