Pertemuan kedua diawali dengan teriakan kencang dan presensi yang terlalu bersemangat untuk Ia yang menyukai ketenangan.

“KAMAAEEELLL!”

Yang dipanggil mengernyit nyeri kala gendang telinganya berdenging. “Jangan barisik! Nanti kodoknya kabur.”

Yang diperingati langsung menutup mulut, berjalan mengendap, lalu mengintip dari balik punggung Kamael. “Kecil banget.”

Namun belum sempat ada bunyi ‘cekrek’, kodoknya loncat ke semak-semak. Radika tersenyum canggung ketika Kamael menusuknya dengan tatapan malas.

“Masih ada bunga!” Radika berusaha menyelamatkan diri dengan menunjuk ke arah semak di sisi seberang taman tempat mereka berada. “Cakep! Bagus! Suwer!!” Dua jarinya terangkat, entah untuk mengucap janji atau mengemis perdamaian.

“Udah pernah foto.”

“Yang mana emang? Liat dulu! Sini-sini! Tuh, tuh! Orang maksudnya yang ini!” Tangannya menunjuk ke salah satu bunga di antara daun-daun semak.

Cantik.

Kamael belum pernah lihat bunga sejenis ini di sini sebelumnya. Biasanya, Ia selalu menyusuri jalan setapak di sekitar sekolah dan berkeliling taman demi mencari objek untuk difoto. “Tanaman baru, ya?”

Bunyi jepretan terdengar, dan Radika membusungkan dada. “Untungnya gue punya mata yang sehat, jadi bisa nemuin bunga cantik yang bersembunyi di antara daun-daun ini!”

“Nyindir?” Kamael menembak laser dari kedua matanya, melewati lapisan tebal lensa kacamata yang dipakainya di pangkal hidung.

Yang kepalanya hampir bolong itu terloncat kaget. “EH? NGGAK!!!” Lalu menyengir lebar dengan iseng, memiringkan kepala. “…dikit?”

Pertemuan pertama adalah ketika Kamael mencoba mengambil foto kucing yang sedang mengejar kupu-kupu, lalu Radika datang dan menghalangi sang objek foto dengan kaki-kakinya.

Perkenalan singkat yang diinisiasi oleh si cerewet dibalas dengan anggukan sesekali oleh si pendiam. Kamael terlalu fokus dan tidak perduli, berpikir guntur yang ini juga pasti hanya datang untuk pergi—muak karena diabaikan, lalu tak pernah menghampiri lagi.

Namun, Radika justru tak ada henti mengajaknya bicara. Dengan aktif mengoceh sendiri, bertanya dan mengambil kesimpulan berdasarkan gestur acuh tak acuh yang diberikan lelaki di hadapannya. Terus bercerita bahwa klub jurnalis baru saja bubar dan betapa takdir telah mempertemukan mereka sebab Ia tak menyangka akan berpapasan dengan anggota klub fotografi. Katanya, klub jurnalis akan perlu juru potret, namun Kamael langsung menolak setelah mengetahui arah pembicarannya.

“WOY, KAMAEL!”

Lamunannya seketika terhenti. Baru bertemu dua hari yang lalu, tapi Radika berlagak seakan mereka sudah kenal lama.