
Kamael Maladewa, 13 November 2001. Saat SMA mengikuti klub fotografi karena suka memotret sebagai hobi. Saat lulus kuliah, Ia lanjutkan hobinya jadi sumber pemasukan utama, meski masih ingin cari kerja dari sertifikat ijazah yang berputar di bidang komputer.
Sifatnya buruk; suka melihat orang marah, senang membuat orang memerah. Sebenarnya, Ia hanya tidak suka terlihat lemah. Semua ditutupi dengan bercanda yang Ia harap akan mengalihkan perhatian lawan bicara. Ragu-ragu dalam menyampaikan perasaan, karena menurutnya, memberikan sedikit opini mungkin tak akan berpengaruh apa-apa. Jadinya Ia diam saja, atau bersembunyi di balik haha-hihi-nya.
Sekarang ini, Kamael sedang dihajar oleh penyesalan. Yang dia lakukan kepada yang tercinta sungguh bodoh dan tidak bisa dimaafkan. Ia ingin mereka kembali lagi, tapi tak mampu barang sekadar menyapanya. Pengecut yang hanya bisa meratap dan tersiksa tanpa mau berbuat apa-apa. Harapannya, setelah bergabung dengan komunitas ini, Kamael bisa lebih berani dalam menyatakan cinta.


Berjarak satu tahun lebih muda. Pemikat hati, pengubah takdir, pelipur lara. Hanya dia yang bisa buat Kamael tergila-gila. Kerjanya jadi barista dan lebih sering berada di sana. Saat SMA, Radika merupakan anggota tim jurnalistik yang mulanya suka minta Kamael untuk membantu mengabadikan cerita.


Teman sekelas tiga tahun di SMA. Yang mendukung, menghina, membantu, menertawakan, mencaci-maki, memberi peluang—apalah Kamael kalau Bagas tidak ada. Satu tim dengan Radika di klub basket SMA, jadi Ia suka merasa bertanggung jawab sebagai penengah mereka.