Kamael masuk ke dalam kafe beberapa jam sebelum ditutup. Membeli segelas coklat hangat less sugar berukuran sedang untuk diminum sambil berjalan karena jadwal janjian mereka adalah jam 10 malam. Yang melayaninya tentu saja Radika. Tubuhnya menegang kala Kamael menatap matanya, namun tangannya tak berhenti bergerak mengetuk layar untuk mencatat pesanan sang mantan.
“Makasih,” Kamael menunduk singkat dan berbalik ke arah pintu, sebelum Radika memanggilnya untuk mengingatkan.
“Pulang nanti?”
Kamael menoleh dan mengangguk. “Aku jemput.”
https://open.spotify.com/track/79uDOz0zuuWS7HWxzMmTa2?si=0gXuaQauSHybVtvkKecsWg
Mereka duduk di salah satu bangku panjang yang paling banyak menyimpan memori. Tempat keduanya berbincang sepulang sekolah setelah dihajar kuis dan tugas yang tak habis-habis, berfoto dan berburu objek gambar untuk diabadikan atau sebagai hadiah untuk klub jurnalis, dan tempat di mana Kamael bersikap menantang sehingga Radika mengakhiri semuanya sambil menahan tangis.
Kamael menggigit bibir—khawatir, layaknya dikelilingi awan hitam dan ditusuk-tusuk oleh petir.
Apakah Radika sudah memaafkannya? Apakah Radika sedang berpura-pura? Apakah Radika datang karena terpaksa?
Mata di balik bingkai menatap ujung-ujung sepatu ketika memulai, “Gimana kabarnya?”
“Baik.” Balasannya terlalu cepat, seakan Radika sudah terbiasa ditanya dan menjawab serupa.
“Mamah gimana?” Kamael menoleh sebentar untuk memeriksa ekspresi Radika, sebelum kembali menatap sepatunya. “Masih suka Gojo?”
“Masih.” Balasan yang ini diucapkan disela-sela kekehan. Kamael tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa yang lebih muda sedang tersenyum.
Tubuhnya agak membungkuk untuk menutupi ujung mata demi menghalangi diri dari melihat senyum manis itu. Ia tidak pantas. “Kafe?”
“Lumayan,” Radika menoleh ke arah dua gelas kopi yang memisahkan mereka. “akhir-akhir ini rame soalnya sekolah mulai pada libur. Apalagi natal sama tahun baru udah mau deket. Banyak yang dateng buat nongkrong doang, tapi banyak juga yang borong buat stock di rumah.”
“Ibu-ibu?”
“Bapak-bapak juga banyak,” lanjut Radika. “yang dari kantoran juga ada. Kemarin juga sempet ada model yang mampir. Katanya dateng karena rekomendasi fotografer berkacamata.”
“Oh,” Rasanya seperti tertangkap basah. “aku cuma bilang kalau kafe kamu coklatnya enak,” Kamael memutar otak, mencari alasan lain agar tidak menjawab bahwa alasan rekomendasinya adalah karena ketika mendengar ‘kafe’ yang pertama kali muncul itu kafe Radika. “cupcake-nya juga.”